Senin, 12 Maret 2012

Sinopsis Novel Refrain

Judul              :  Refrain

Pengarang      : Winna Effendi       

Penerbit          : Gagasmedia
Nata dan Niki adalah dua orang sahabat yang selalu bersama-sama menatap bintang di atas trampolin dan itu hampir menjadi rutinitas. Setiap Niki bertanya tentang siapa yang lebih dulu jatuh cinta di antara mereka berdua, Nata selalu menjawab “kamu”. Di sekolah  Niki dan Nata mempunyai sahabat yang bernama Annalise (Anna) pindahan dari New York. Anna merupakan anak tunggal dari model terkenal Vidia Rossa. Mereka bertiga menjadi sahabat erat. Ternyata Anna menaruh rasa sayang kepada Nata. Di sisi lain Nata pun merasakan ada yang berubah dari diri seorang Niki.
Suatu hari Niki diajak berkenalan oleh kapten basket dari lawan SMA nya. Oliver anak terkenal dari SMA Pelita. Niki pun menjadi gugup ketika suatu hari Oliver mengajaknya jalan-jalan dan menyatakan rasa cintanya pada NiKi. Seketika itu Niki merasa betapa senangnya mempunyai pacar dan langsung menceritakan kepada Nata dan Anna. Nata terkejut dan mengatakan bahwa Oliver tidak pantas menjadi pacar Niki. Nata berkata dalam hatinya bahwa dia yang lebih dulu jatuh cinta.
Anna mengajak Nata dan Niki ke rumahnya untuk memilih koleksi-koleksi fotonya. Niki menemukan kumpulan foto-foto Nata yang secara diam-diam disimpan oleh Anna. Nata memberanikan diri bertanya tentang foto itu. Anna pun mengatakan bahwa dia sayang kepada Nata. Anna lalu cepat mengatakan bahwa tidak perlu ada jawaban dari Nata karena ia sudah tahu jawabannya. Nata menjadi lega dan berkata bahwa ini baru pertama kalinya ada cewek yang menyatakan langsung perasaaannya kepadanya.
Suatu hari Niki masuk ke kamar Nata dan secara tidak sengaja membaca lagu-lagu ciptaan Nata, tapi ada hal yang membuatnya lemas ketika ia membaca tulisan tentang perasaan Nata kepadanya . Nata mengetahuinya dan Niki ingin meninggalkan ruang itu, tapi ditahan oleh Nata yang meraih tangannya dan berkata dalam suara rendah, “gue sayang lo, Nik”. Niki tidak menjawab dan langsung pergi . Saat itu Nata merasa dia sudah kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Persahabatan Nata dan Niki menjadi renggang.
Suatu ketika sepulang sekolah Nata berusaha mendekati Niki, ingin mengatakan sesuatu tentang perasaannya dan Nata juga mengatakan bahwa ia tidak ingin merusak persabatannya apalagi hubungan niki dengan Oliver . Nata hanya ingin Niki tidak menjauh darinya. Niki akhirnya berani berkata bahwa dia tetap menggap Nata  sebagai sahabat dan minta maaf kalau ia tidak menerima perasaan Nata. Kadang Niki merasa kangen kepada Anna dan Nata, ia hanya bisa mengintip dari rumahnya ketika Nata bercanda ria bersama Anna di trampolin. Tempat khusus dirinya bersama Nata.
SMA Pelita akan mengadakan pesta, Niki akan menjadi pasangan Oliver. Namun , Niki terkejut dan marah ketika melihat Oliver berpasangan dengan Helena. Helena sudah merencanakan semua itu karena ia iri kepada Niki. Helena berhasil menipu Oliver dengan mengatakan bahwa ia akan mempertemukannya dengan Shasa. Oliver tega melakukan semua itu karena sangat mencintai Shasa.
Niki terkaget ketika Nata mengajaknya pulang dari tempat pesta itu. Sahabatnya datang menyelamatkannya. Nata datang tanpa sepengetahuan Niki dan diberitahu oleh Oliver bahwa ia harus menjemput Niki. Oliver sebenarnya tidak tega melakukan itu. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengobrol di trampolin. Mereka berdua kembali berbaikan.
Kelulusan akan segera tiba. Annalise memutuskan untuk kuliah, sementara Niki masih bingung. Nata tidak sanggup meninggalkan Niki, padahal ia sudah diterima sekolah di luar negeri. Danny tahu apa yang terjadi pada adiknya. Ia pun menasehati agar Nata mau sekolah dan tidak perlu khawatir terhadap Niki. Malamnya Nata dan Niki memutuskan untuk menghabiskan malam di atas trampolin sambil mengingat masa-masa kecilnya dulu hingga mereka berdua tertidur di atas trampolin itu. Setelah terbangun , mereka memperhatikan dua planet bersinar pagi itu, berdekatan seperti dua sahabat. Akhirnya perpisahan itu terjadi, Nata akan pergi untuk waktu yang lama.  Nata mengecup kening Niki dengan lembut, membekaskan seluruh rasa cintanya pada gadis itu.  Mereka berdua menangis dan Nata berkata dalam hati “Gue akan segera pulang dan,saat itu,gue gak akan melepaskan lo lagi”.
Setelah hampir lima tahun Nata dan Niki berpisah. Sampai suatu hari Nata pulang dan memutuskan untuk mampir ke sekolah lamanya.  Teriakan seorang guru perempuan membuat Nata ingin mencari asal suara itu. Hati Nata berdesir,terpaku dan tidak mampu bergerak ketika menemukan asal suara itu. Mereka berdua saling menatap, perempuan itu seperti ingin berseru,tapi justru hanya berbisik. Tidak ada yang berubah. Mereka masih saling memiliki;dulu,sekarang,dan selamanya.

Nilai Edukasi Dalam Cerpen Guru karya Putu Wijaya

Nilai Edukatif dalam Cerpen Guru karya Putu Wijaya
Oleh : Arif Budianto
A.    Pendahuluan
Sastra sebagai cerminan sosial budaya suatu bangsa harus diwariskan kepada generasi muda. Menurut Herfanda (2008;131) melalui Suryaman, sastra memiliki potensi yang besar untuk membawa masyarakat ke arah perubahan, termasuk perubahan karakter. Sastra dapat menjadi spirit bagi munculnya gerakan perubahan masyarakat, bahkan kebangkitan suatu bangsa ke arah yang lebih baik, penguatan rasa cinta tanah air, serta sumber inspirasi dan motivasi kekuatan moral bagi perubahan sosial budaya dari keadaaan yang terpuruk menjadi keadaan yang mandiri dan merdeka.
Karya sastra dapat dipandang sebagai bentuk dari perwujudan keinginan seorang pengarang untuk menawar, dan menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pandangan tentang suatu hal, gagasan, moral atau amanat yang dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulisan sastra memiliki banyak tujuan, sastra ditulis dapat untuk menyampaikan nilai pendidikan, moral, agama dan lain sebagainya. Jadi karya sastra dapat digunakan untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, ini sesuai dengan pendekatan pragmantik.
Untuk itulah tulisan ini mencoba mengkaji dan memahami cerpen “Guru” karya putu Wijaya berdasarkan fungsinya untuk memberikan nilai-nilai edukasi bagi pembaca. Sebagaimana di atas, sastra dapat dipandang sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Pendekatan yang akan digunakan dalam mengkaji dan memahami adalah pendekatan pragmantik.

B.     Kajian teori
Suatu karya sastra diciptakan oleh manusia yang kreatif. Keberadaan sastra itu difungsikan untuk dibaca dan dipahami isinya oleh manusia. Sastrawan menulis karyanya tentu ada tujuannya, salah satu tujuannya adalah menyampaikan pesan edukasi kepada pembaca. Pembaca diberikan kebebasan untuk menafsirkan nilai-nilai apa yang ada dalam karya sastra yang dibacanya. Untuk itu perlu adanya kritik terhadap suatu karya sastra dengan menggunakan salah satu pendekatan, di antaranya dengan pendekatan pragmantik. Hal ini agar karya sastra baik berupa novel, cerpen, puisi dan lain-lainnya yang mungkin sulit dipahami isinya oleh kaum awan akan menjadi tersampaikan maksud dan tujuan dari pengarang.
Suatu karya sastra akan dinilai orang tinggi jika di dalamnya terdapat banyak nilai-nilai pendidikan moral yang bermanfaat bagi pembacanya. Nilai edukasi tersebut dapat dimaknai dan dipahami melalui pendekatan pragmantik. Pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya.Menurut Suryaman (2010:18) sastra tidak hanya memberikan kemenarikan dan hiburan serta mampu menanamkan dan memupuk rasa keindahan, tetapi juga mampu memberikan pencerahan mental dan intelektual. 
Untuk memahami sebuah percakapan yang memiliki konteks tertentu, kita tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan leksikal dan sintaksis saja, melainkan harus pula disertai dengan interpretasi pragmantik (Leech & Short. 1981:290) melalui Nurgiyantoro. Dengan menyatakan konteks pragmantiknya, makna sebuah percakapan dalam sebuah cerpen atau novel akan dapat dipahami secara penuh. Jika unsur pragmantiknya terabaikan, maka makna dari percakapan dalam sebuah cerpen atau karya sastra lainya hanya tersampaikan secara tersurat saja. Makna percakapan dalam banyak hal lebih ditentukan oleh konteks pragmantiknya, dan hal itu tidak diungkapkan langsung dengan unsur bahasa, melainkan hanya lewat kode-kode tertentu (budaya) yang seharusnya telah menjadi milik pembaca.
Demikianlah uraian singkat dasar-dasar dari pendekatan pragmantik yang akan digunakan sebagai sarana memahami cerpen “Guru” karya Putu Wijaya. Putu Wijaya adalah sastrawan ternama dan perlu pemahaman yang mendalam mengenai karya sastra yang dihasilkannya, salah satunya cerpen ini.
C.    Cara  Penelitian
            Sumber data dalam penelitian ini adalah cerpen “Guru” karya Putu Wijaya. Dengan demikian, data penelitian ini berupa data verbal yang terdapat dalam cerpen yang menjelaskan hubungannya dengan nilai-nilai edukasi dalam kehidupan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan dan pencatatan. Selanjutnya data tersebut dianalisis dan dimakna sesuai dengan konteks dan dihubungkan dengan nilai edukatif yang dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca. Analisis dilakukan melalui pendekatan pragmantik.

D.    Hasil dan Pembahasan

“Guru” merupakan judul cerpen karya Putu Wijaya. Isi atau pesan edukasi dalam cerpen ini adalah pesan edukatif dalam hal pencapaian cita-cita seorang anak hingga akhirnya ia sukses, meskipun sebelumnya keputusan menjadi guru ditentang oleh orang tuanya.

Kata “guru”   yang digunakan dalam judul cerpen ini mempunyai makna yang beragam. Guru  dalam KBBI berarti orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Selain itu guru juga dapat dimaknai sebagai panutan yang dapat menentukan kelestarian  dan kejayaan kehidupan bangsa. Dalam cerpen ini banyak sekali mengandung nilai-nilai edukasi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan pembaca. Inilah salah satu hal yang menarik dari cerpen ini.

Cerpen “Guru” diawali dengan kekhawatiran orang tua karena anaknya yang bernama Taksu bercita-cita menjadi guru. Bagi mereka, ini adalah malapetaka, pendapat orang tua Taksu guru masa depannya suram dan kehidupannya tidak akan sukses . kutipaan di bawah ini mempertegas gambaran di atas.

Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong...

"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"

"Tapi saya mau jadi guru."

Suasana awal yang membuka cerita di atas mau tidak mau akan membuat pembaca membayangkan peristiwa apa yang kemudian terjadi. Ketidakmauan tokoh Taksu menuruti kemauan orang tuanya membuat pembaca ikut berpikir sebenarnya apa sebab dari penolakan Taksu. Mengapa ia sangat mempertahankan cita-citanya itu? Inilah yang kemudian menarik perhatian pembaca. Di sini tokoh orang tua dari Taksu sangat memaksakan kehendak, bahkan berbagai cara dilakukan untuk membuat anaknya merubah cita-citanya.

"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"

"Sudah saya pikir masak-masak."
Saya terkejut.
"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng.
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."

Kutipan di atas jelas sekali mengungkapkan bahwa ayah Taksu membeberkan semua unek-uneknya agar anaknya berubah pikiran. Namun, Taksu tetap pada pendiriannya. Inilah salah satu nilai edukasi yang dapat dipetik dari cerpen ini, bahwa hidup seharusnya tidak seperti air di atas daun talas. Taksu bersikeras sampai kapanpun ia tetap pada pendiriannya, ia ingin menjadi guru. Bahkan suatu hari ketika orangtuanya mendatangi tempat kos Taksu dengan membawa makanan kesukaannya dan juga laptop baru, Taksu masih dengan pendiriannya yaitu tetap ingin mewujudkan cita-cita mulia tersebut.
"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"

Taksu sudah paham perihal bagaimana prinsip seorang guru, oleh sebab  itulah ia tidak mau menuruti nasehat orang tunya. Meskipun ia dimarahi kedua orang tuanya, Taksu tetap tenang, ia tidak mau membantah setiap kata-kata yang keluar dari mulut orang tunya. Taksu sangat menghormati kedua orang tunya. Inilah nilai edukasi lain yang terdapat dalam cerpen ini, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Taksu tetap pada pendiriannya namun tetap dengan cara yang halus. Meskipun berbeda pendapat dengan orang tuanya, Taksu tetap menghormati keputusan orang tuanya tanpa membantah dengan perkataan yang tidak wajar atau tidak sopan.
"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"

Taksu mengangguk.
"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"

Setiap pertanyaan yang diajukan kepada Taksu, selalu ia jawab dengan dingin dan tenang. Seperti “paham, tapi apa salahnya jadi guru?” Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan seorang anak jika keinginannya ditentang orang tuanya. ‘jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?’’ Masih dengan kalimat yang santun ia menjawab pertanyaan yang selalu muncul dari orang tunya. Berikut ini kutipan yang mempertegas gambaran di atas.
"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
           
Taksu memandang saya.
"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"

Melalui tokoh Taksu, Putu Wijaya juga menggambarkan bagaimana seharusnya watak dan sikap yang harus dimiliki jika manusia ingin menjadi pemimpin atau panutan, yaitu tidak mudah tergoda dengan materi atau sogokan lainnya. Taksu tetaplah Taksu, ia adalah manusia yang teguh pada pendiriannya. Usaha apapun yang dilakukan kedua orang tunya tidak mempan baginya. Bahkan ketika ayahnya datang dengan membawa hadiah mobil mewah, Taksu tetapa menolak keinginan orang tuanya.

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.
           
"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

"Saya ingin jadi guru. Maaf."

Ayahnya pun  mengancam akan menghentikan uang kiriman bulanan. Namun Taksu masih dengan pendiriannya. Hingga akhirnya membuat ayahnya marah dan mengancam akan membunuh Taksu. Taksu sungguh merupakan gambaran seorang yang memiliki hati luhur dan sederhana. Manusia yang mempunyai prinsip hidup yang jelas.
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

Taksu menatap saya.
"Apa?"

"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.

"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"Tidak? Kenapa tidak?"

"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yang akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak."...

"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"

"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."

Itulah guru yang sejati. Putu Wijaya mengungkapkan isi pikirannya memalui tokoh Taksu dengan dialognya yang sedikit namun tajam dimata pembaca. Ilmu yang diajarkan guru akan tetap abadi meskipun sang guru jasadnya telah tiada. Ungkapan tersebut jelas merupakan suatu nilai edukasi yang dapat menjadi pembelajaran bagi manusia, bahwa hidup tidaklah terlalu memikirkan materi tetapi lebih berpikir tentang apa yang telah diberikan kepada sesama. Secara tidak langsung tokoh Taksu juga menggambarkan nilai religiositas. Taksu dengan kepribadiannya tersebut meyakini bahwa ia pasti mati dan kembali pada Tuhan yang Maha Kuasa, namun ada hal yang tetap hidup dan sudah diberikannya kepada sesama yaitu ilmu. Ilmu datangnya dari Tuhan dan untuk manusialah ilmu itu anugerahkan. Hal ini tersirat dalam kutipan di atas.
Kehidupan duniawi akan terasa indah jika manusia dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi manusia lainnya yaitu ilmu. Ilmu sangatlah penting dalam kehidupan manusia, itulah yang berusaha digambarkan Putu Wijaya melalui cerpen ini. Guru melalui ilmunya akan tetap abadi dan bahkan bisa berkembang dan memberi inspirasi bagi generasi yang akan membawa bangsa ini menuju kesuksesan.
Taksu akhirnya memilih hidupnya sendiri, ia pergi dan hidup dengan caranya sendiri. Sementara kedua orang tuanya terkejut dengan keputusan anaknya. Taksu hanya meninggalkan secarik kertas yang ia sobek dari buku hariannya. Isinya “ maaf, tolong relakan saya menjadi guru”.  Di sini Putu Wijaya mencoba mencari solusi atas konflik anak dan orang tua tersebut. Konflik tesebutlah yang menjadikan kedua orang tua Taksu sadar akan keputusan anaknya tersebut dan mereka sadar bahwa cara memperlakukan keinginan Taksu adalah salah. Dengan usaha yang pantang menyerah, akhirnya Taksu pulang dengan menjadi seorang guru yang sukses dan ia tanpa sedikit pun melupkan orang tuanya. Taksu pergi bukan karena benci kepada orang tuanya, tapi lebih kepada bagaimana ia menggapai cita-cita mulia tersebut.
Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi.

Tujuan hidup seorang anak memang menjadi hal yang utama bagi orang tua. Namun, bukankah seharusnya orang tua itu selalu mendukung keputusan anaknya jika keputusan itu adalah hal mulia yang dipilih dan diyakini sang anak. Di cerpen ini ada nilai edukasi lain yang dapat diambil yaitu tugas orang tua bukanlah menentukan jalan apa yang harus dipilih sang anak tetapi mendukung, mengarahkan dan mengawasi jalan pilihan sang anak adalah hal penting dan utama  dari tugas orang tua. Dengan catatan, selama pilihan hidup sang anak masih sesuia dengan norma-norma kebaikan.

E.     Penutup
Melalui cerpen “Guru”, Putu Wijaya berusaha menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dengan usaha dan keteguhan dalam berpendirian. Semua tuduhan yang dilontarkan kedua orang tua Taksu tentang masa depan guru mungkin ada benarnya benar. Tetapi guru tetaplah guru yang selalu hidup karena ilmu yang diajarkan. Inilah yang digambarkan pengarang melalui tokoh Taksu dengan dialog-dialognya yang sederhana dan mengena di hati pembaca.
            Karya sastra dapat dipandang sebagai bentuk dari perwujudan keinginan seorang pengarang untuk menawar, dan menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pandangan tentang suatu hal, gagasan, moral atau amanat yang dapat bermanfaat bagi pembaca. Hal inilah yang coba dilakukan oleh Putu Wijaya dalam cerpen “Guru” ini. Namun demikian, tulisan di atas hanya sedikit penafsiran mengenai cerpen “Guru”, masih ada kemungkinan penafsiran lain yang bisa dilakukan.

Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Siswoyo, Dwi, Sidharto, Suryati, Sulistyono, T, dkk. 2008. Ilmu pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
Suryaman, Maman. 2010. Diktat Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Sastra. Yogyakarta: Jurusan PBSI. FBS.UNY
Wiyatmi.2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogayakarta: Pustaka Book Publisher.

Selasa, 06 Maret 2012

Bahasa Dapat Mempengaruhi Perilaku Penuturnya (Bahasa Indonesia)



Akan Dibawa Kemana Baha(ng)sa Indonesia
        Pada tanggal 27 Februari 2012 saya mengikuti sebuah seminar nasioanal di kampus. Ada banyak yang dapat saya petik dari seminar tersebut, salah satunya dari nara sumber yaitu Bapak Soeparno. Inilah pesan yang dikomukasikan oleh Bapak Soeparno dalam Seminar Nasional kebahasaan “ menyikapi Berbagai Permasalahan Bahasa Indonesia, Siapakah Yang Bertanggung jawab?”, akan dibawa ke mana bahasa Indonesia? Dan akan dibawa kemana bangsa Indonesia? Ada teori tentang hubungan antara corak bahasa dan perilaku bangsa. Teori konvensional mengatakan bahwa perilaku bangsa mempengaruhi corak bahasanya, sedangkan teori lain menyatakan sebaliknya, yakni corak bahasa justru akan mempengaruhi perilaku bangsa. Berangkat dari hipotesis Whorf-Shapir. Ada beberapa keunikan penggunaan bahasa Indonesia yang perlu dikuak terkait dengan masalah perilaku penuturnya.
1.      Penghilangan fungsi gramatik dan aneka pelesapan.
Pada kalimat Anaknya berjumlah tiga orang menjadi Anaknya tiga orang, terdapat penghilangan fungsi gramatik. Pelesapan unsur-unsur fonetis dan silabis pada kata saja menjadi aja, sudah menjadi udah  dsb, pada hakikatnya merupakan upaya untuk mencari bentuk bahasa yang efektif dalam arti dengan usaha minimal menghasilkan produk maksimal. Perilaku tersebut tidak berbeda dengan mental koruptor. Maka perlu penyadaran terhadap pengaruh buruk kebiasaan menghilangkan fungsi gramatikal dan melesapkan unsur fonetis serta silabis kata.  Diharapkan dapat menuntun bangsa Indonesia menggunakan bahasa yang lurus.

2.      Pergeseran pelengkap ke posisi predikat pada kalimat yang predikatnya dilesaapkan seperti pada kalimat Ayahnya merupakan tokoh masyarakat menjadi Ayahnya tokoh masyarakat merupakan keunikan, yakni hampir semua orang Indonesia bersepakat bahawa pelengkap yang menduduki posisi predikat yang kosong itu lalu dinamakan predikat, sehingga ayahnya sebagai subyek dan tokoh masyarakat sebagai predikat. Produknya adalah kalimat nominal. Dalam teori tagmemik, predikat selalu diisi oleh kata kerja. Berdasarkan teori tersebut berarti kalimat nominal adalah kalimat yang terlahir karena pelesapan (korupsi) predikat dan perselingkuhan subjek dan pelengkap di kala predikat dilesapkan. Dengan menghindari bentuk tersebut diharapkan bangsa ini akan terhindar dari perilaku yang tidak terpuji.
3.      Penggunaan salam “Halo, apa kabar!”, mempunyai dampak kepada penuturnya untuk selalu haus akan kabar atau berita. Dalam bahasa Inggris greeting yang popular adalah ‘How do you do!”  di sini kata “do’’ yang ditonjolkan, sehingga orang Inggris lebih suka bekerja dari pada ngobrol. Benar juga ya?
4.      Penggunaan kata lesapan kata sapaan untuk bapak, ibu dan saudara merupakan fenomena yang unik. Peminjaman istilah kekerabatan menjadi kata sapaan bukannya tanpa dampak, orang yang bukan ayahnya dipanggil bapak, begitu juga dengan kata sapaan ibu dan saudara.  Dampak positifnya memang ada, akan tumbuh suburnya hubungan silaturahim. Namun, dampak negatifnya muncul prtaktik nepotisme dalam segala bidang kehidupan.
5.      Penggunaa kata ganti orang ketiga pada kalimat penutup surat dinas telah mengajak pemakai bahasa Indonesia untuk tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Atas perhatian Bapak, diucapkan terimakasih, uacapan terimakasih seharusnya diucapkan orang pertama(pembuat surat) tetapi di kalimat tersebut justru orang ketiga. Atas perhatiannya, diucapkan terimakasih, yang diberi ucapan terima kasih seharusnya orang kedua (yang dikirimi surat0 bukan orang ketiga. Atas perhatian Anda, kami ucapkan terima kasih, yang mengucapkan seharusnya penulis surat dan yang diberi ucapan terima kasih adalah orang yang dikirimi surat, tetapi kalimat tersebut justru yang mengucapkan dan yang diberi ucapan terima kasih adalah orang ketiga.
6.      Ketiadaan penanda kala (tenses) dalam bahasa Indonesia secara tidak disadari telah mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat untuk tidak displin terhadap waktu.
7.      Kegramatikalan berdasarkan keumuman. Bentuk kata bupati mendapat imbuhan ke-an secara kaidah seharusnya menjadi kebupatian, namun kata kabupaten yang dianggap benar, implikasinya ialah bahwa masyarakat mengakui yang benar adalah yang lazim atau yang banyak pengikutnya, sehingga terjadi korupsi berjama’ah.
8.      Penggunaan istilah asing dalam bahasa Indonesia nyaris tak terkontrol. Istilah asing secara besar-besaran diindonesiakan dan istilah Indonesia yang kita miliki secara besar-besaran disingkirkan. Banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham tentang arti istilah-istilah yang telah tersingkirkan. Dampaknya adalah masyarakat kurang menghargai dengan apa yang dimiliki oleh bangsanya sendiri dan justru bangga serta mengagumi budaya luar.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia di atas mempunyai dampak negatif terhadap perilaku bangsa Indonesia. Kasus di atas harus dihindari dan perlu dilakukan penyadaran kepada pemakai bahasa Indonesia untuk taat asas menggunakan bahasa Indonesia yang lurus. Satu yang pasti yaitu kita harus bangga dengan bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa persatuan. Mari kita jaga keaslian bahasa Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan. Kita boleh belajar bahasa asing negara manapun tetapi jangan sampai kebanggaan dalam menguasai bahasa asing yang anda pelajari mengalahkan kebanggaan menggunakan bahasa kita sendiri.