Sabtu, 17 Maret 2012

Sinopsis Novel Sengsara Membawa Nikmat


Judul              : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang      : Tulis ST Sati
Penerbit          : Balai Pustaka
Sore hari Midun bersama Maun ingin melihat permainan sepak raga di pasar. Midun pun ikut bermain. Kacak selalu mengincar raga kepada Midun.  Kacak memang sangat membenci Midun. Kacak kalah dan malu sendiri. Kabar perkelahian itu menyebar di kampung. Pak Midun, ayah Midun memang menyuruh anaknya untuk belajar silat kepada Pendekar Sutan dan setelah itu kepada Haji Abbas. Suatu hari Pak Inuh mantan orang sakti namun gila, lolos dari kurungannya dan mengamuk di pasar. Midun yang kebetulan ada di situ langsung menghentikannya. Namun Kacak menghasut Midun. Midun dihukum enam hari untuk bekerja di kantor dan memberi makan kuda.
            Suatu petang Midun meyelamatkan Katijah istri Kacak karena terseret banjir ketika mandi di sungai. Kacak geram, Midun dihina dan ketika Kacak menyerangnya. Perkara ini diketahui kepala penghulu dan Tuanku Laras. Midun disidang dan dijatuhi hukuman untuk ronda malam. Midun mendapat bantuan dari keluarganya, mereka berinisiatif untuk ronda bersama. saat ronda terakhir, rombongan ronda melihat ada pencuri di rumah istri Kacak. Midun dan Pendekar Sutan menangkap dua pencuri, satu pencuri lainnya lolos. Kasus ini diketahui Tuanku Laras, sayangnya kasus ini tidak diungkap.
Di Bukit tinggi akan diadakan pacuan kuda dan sebelumnya akan diadakan pasar malam. Midun dan Maun pergi melihatnya. Namun pada hari terakhir mereka diserang orang. Orang itu adalah Lenggang dan kawan-kawannya. Malang nasib Midun, ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena dituduh melakukan perkelahian. Midun dijatuhi hukuman enam bulan penjara di Padang dan Lenggang dihukum setahun penjara. Midun harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Ketika perjalan ke Padang, Midun  diantar opas yang bernama Gempa Alam. Orangnya baik memberi arahan bagaimana harus bersikap ketika di penjara nanti.
Sesampai di penjara, Midun diadu dengan Si Ganjil, orang yang paling ditakuti dari para terpidana. Si Ganjil rebah seketika dan kalah. Di penjara itu Midun disiksa oleh para penjaga. Beruntung Midun diselamatkan oleh Turigi. Mereka berdua sudah seperti bapak anak. Di penjara Midun juga bertemu dengan Lenggang. Dengan hati yang tulus mereka saling meminta maaf dan Lenggang menceritakan akal busuk Kacak. Berawal ketika menyapu jalan saat menjalankan tugas dari tahannn, Midun menemukan sebuah kalung berlian. Dengan hati yang baik Midun mengantarkan kepada pemiliknya. Pemiliknya seorang gadis cantik. Sebagai balas budi, gadis yang bernama Halimah itu setiap hari selalu mengantar makanan untuk Midun.
Halimah tidak lagi mengantar makanan. Ternyata ibunya sakit dan hari berikutnya meninggal. Nenek yang biasanya menemani Halimah, memberi sepucuk surat kepada Midun. Midun diharapkan membantu Halimah melarikan diri karena nyawanya terancam. Halimah berhasil diselamatkan. Midun dan Halimah kemudian pergi ke Bogor. Mereka akan mencari ayah kandung Halimah. Sebelum pergi Midun lebih dulu menulis surat dalam bahasa arab untuk keluarga.
Di dalam kapal Midun dan Hamid saling menyimpan rasa cinta.  Mereka semakin akrab. Sesampainya di tujuan, mereka berhasil menemukan ayah kandung Halimah. Midun sebenarnya ingin menyatakan perasaannya kepada Halimah dan ayahnya perihal keinginannya memperistri Halimah. Namun, Midun lebih memilih menyampaikan lewat surat kepada Halimah. Midun ingin mencari uang dulu untuk masa depan.
Midun pergi ke Betawi dan berkenalan dengan Syekh Abdullah al-Hadramut. Suatu hari Midun ingin berniaga sendiri dan ia meminjam uang sampai dua kali kepada orang yang baru dikenalnya itu. Midun terkejut bukan main, Syekh Abdullah ternyata memberi bunga. Midun tidak mau membayarnya, akibatnya ia dipenjara. Sementara itu di kampung, ayah Midun sakit keras karena selalu teringat Midun. Pak Midun meninggal dunia. Menurut adat Minangkabau harta Pak Midun harus dimiliki oleh saudara kemenakannya bukan pada anak istrinya. Ibu Midun dan adik-adik Midun jatuh miskin. Sementara adik perempuan Midun menikah dengan Maun.
Midun akhirnya bebas, uang yang ia punya terpaksa dibayarkan kepada Syehk Abdullah. Nasib mujur akhirnya datang ketika suatu hari Midun menyelamatkan seorang anak dari amukan seorang serdadu. Oleh orang tua anak itu Midun diminta untuk bekerja dikantor sebagai juru tulis dan mata-mata. Kebetulan Midun sudah pandai menulis.Ayah anak itu adalah Hoofdcommissaris, karena kerja Midun yang cekatan dan beberapa kali membongkar sindikat penjual candu akhirnya Midun diangkat menjadi mantri polisi. Midun juga mendapat penghargaan dari pemerintah. Selanjutnya Midun melangsungkan pernikahana dengan Halimah. Tetapi Midun harus pergi ke Medan untuk menjalankan tugas, ia diminta untuk menyelidiki kasus penyelundupan candu.
Suatu hari Midun melihat seorang jongos yang mirip adiknya dan ternyata benar itu adalah Manjau. Midun dan adiknya kemudian pergi ke Bogor. Midun mendapat kabar gembira, setelah mendapat surat bahwa ia  diangkat menjadi asisten Demang di daerah asalnya. Midun sekeluarga pergi ke Bukit Tinggi. Mereka lebih dulu menginap di rumah teman Halimah karena Midun mewakili demangnya untuk rapat besar. Tanpa disangka Midun bertemu dengan Kacak, Kacak pun sontak ketakutan melihat Midun. Kacak malu atas perbuatannya dulu.
Setelah tugas itu selesai, Midun sekeluarga dan Manjau pergi ke kampung. Mereka disambut isak tangis keluarga. Haji Abbas dan Pendekar Sutan bangga atas keberhasilan Midun. Beberapa hari kemudian, Midun dijadikan penghulu, bergelar Datuk Paduka Raja. Sementara Kacak ditangkap pihak berwenang karena telah menggelapkan uang. Kacak dihukum dua tahun penjara dan di buang ke Padang.

Sinopsis Novel Sengsara Membawa Nikmat


Judul              : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang      : Tulis ST Sati
Penerbit          : Balai Pustaka
Sore hari Midun bersama Maun ingin melihat permainan sepak raga di pasar. Midun pun ikut bermain. Kacak selalu mengincar raga kepada Midun.  Kacak memang sangat membenci Midun. Kacak kalah dan malu sendiri. Kabar perkelahian itu menyebar di kampung. Pak Midun, ayah Midun memang menyuruh anaknya untuk belajar silat kepada Pendekar Sutan dan setelah itu kepada Haji Abbas. Suatu hari Pak Inuh mantan orang sakti namun gila, lolos dari kurungannya dan mengamuk di pasar. Midun yang kebetulan ada di situ langsung menghentikannya. Namun Kacak menghasut Midun. Midun dihukum enam hari untuk bekerja di kantor dan memberi makan kuda.
            Suatu petang Midun meyelamatkan Katijah istri Kacak karena terseret banjir ketika mandi di sungai. Kacak geram, Midun dihina dan ketika Kacak menyerangnya. Perkara ini diketahui kepala penghulu dan Tuanku Laras. Midun disidang dan dijatuhi hukuman untuk ronda malam. Midun mendapat bantuan dari keluarganya, mereka berinisiatif untuk ronda bersama. saat ronda terakhir, rombongan ronda melihat ada pencuri di rumah istri Kacak. Midun dan Pendekar Sutan menangkap dua pencuri, satu pencuri lainnya lolos. Kasus ini diketahui Tuanku Laras, sayangnya kasus ini tidak diungkap.
Di Bukit tinggi akan diadakan pacuan kuda dan sebelumnya akan diadakan pasar malam. Midun dan Maun pergi melihatnya. Namun pada hari terakhir mereka diserang orang. Orang itu adalah Lenggang dan kawan-kawannya. Malang nasib Midun, ia harus berurusan dengan pihak berwajib karena dituduh melakukan perkelahian. Midun dijatuhi hukuman enam bulan penjara di Padang dan Lenggang dihukum setahun penjara. Midun harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Ketika perjalan ke Padang, Midun  diantar opas yang bernama Gempa Alam. Orangnya baik memberi arahan bagaimana harus bersikap ketika di penjara nanti.
Sesampai di penjara, Midun diadu dengan Si Ganjil, orang yang paling ditakuti dari para terpidana. Si Ganjil rebah seketika dan kalah. Di penjara itu Midun disiksa oleh para penjaga. Beruntung Midun diselamatkan oleh Turigi. Mereka berdua sudah seperti bapak anak. Di penjara Midun juga bertemu dengan Lenggang. Dengan hati yang tulus mereka saling meminta maaf dan Lenggang menceritakan akal busuk Kacak. Berawal ketika menyapu jalan saat menjalankan tugas dari tahannn, Midun menemukan sebuah kalung berlian. Dengan hati yang baik Midun mengantarkan kepada pemiliknya. Pemiliknya seorang gadis cantik. Sebagai balas budi, gadis yang bernama Halimah itu setiap hari selalu mengantar makanan untuk Midun.
Halimah tidak lagi mengantar makanan. Ternyata ibunya sakit dan hari berikutnya meninggal. Nenek yang biasanya menemani Halimah, memberi sepucuk surat kepada Midun. Midun diharapkan membantu Halimah melarikan diri karena nyawanya terancam. Halimah berhasil diselamatkan. Midun dan Halimah kemudian pergi ke Bogor. Mereka akan mencari ayah kandung Halimah. Sebelum pergi Midun lebih dulu menulis surat dalam bahasa arab untuk keluarga.
Di dalam kapal Midun dan Hamid saling menyimpan rasa cinta.  Mereka semakin akrab. Sesampainya di tujuan, mereka berhasil menemukan ayah kandung Halimah. Midun sebenarnya ingin menyatakan perasaannya kepada Halimah dan ayahnya perihal keinginannya memperistri Halimah. Namun, Midun lebih memilih menyampaikan lewat surat kepada Halimah. Midun ingin mencari uang dulu untuk masa depan.
Midun pergi ke Betawi dan berkenalan dengan Syekh Abdullah al-Hadramut. Suatu hari Midun ingin berniaga sendiri dan ia meminjam uang sampai dua kali kepada orang yang baru dikenalnya itu. Midun terkejut bukan main, Syekh Abdullah ternyata memberi bunga. Midun tidak mau membayarnya, akibatnya ia dipenjara. Sementara itu di kampung, ayah Midun sakit keras karena selalu teringat Midun. Pak Midun meninggal dunia. Menurut adat Minangkabau harta Pak Midun harus dimiliki oleh saudara kemenakannya bukan pada anak istrinya. Ibu Midun dan adik-adik Midun jatuh miskin. Sementara adik perempuan Midun menikah dengan Maun.
Midun akhirnya bebas, uang yang ia punya terpaksa dibayarkan kepada Syehk Abdullah. Nasib mujur akhirnya datang ketika suatu hari Midun menyelamatkan seorang anak dari amukan seorang serdadu. Oleh orang tua anak itu Midun diminta untuk bekerja dikantor sebagai juru tulis dan mata-mata. Kebetulan Midun sudah pandai menulis.Ayah anak itu adalah Hoofdcommissaris, karena kerja Midun yang cekatan dan beberapa kali membongkar sindikat penjual candu akhirnya Midun diangkat menjadi mantri polisi. Midun juga mendapat penghargaan dari pemerintah. Selanjutnya Midun melangsungkan pernikahana dengan Halimah. Tetapi Midun harus pergi ke Medan untuk menjalankan tugas, ia diminta untuk menyelidiki kasus penyelundupan candu.
Suatu hari Midun melihat seorang jongos yang mirip adiknya dan ternyata benar itu adalah Manjau. Midun dan adiknya kemudian pergi ke Bogor. Midun mendapat kabar gembira, setelah mendapat surat bahwa ia  diangkat menjadi asisten Demang di daerah asalnya. Midun sekeluarga pergi ke Bukit Tinggi. Mereka lebih dulu menginap di rumah teman Halimah karena Midun mewakili demangnya untuk rapat besar. Tanpa disangka Midun bertemu dengan Kacak, Kacak pun sontak ketakutan melihat Midun. Kacak malu atas perbuatannya dulu.
Setelah tugas itu selesai, Midun sekeluarga dan Manjau pergi ke kampung. Mereka disambut isak tangis keluarga. Haji Abbas dan Pendekar Sutan bangga atas keberhasilan Midun. Beberapa hari kemudian, Midun dijadikan penghulu, bergelar Datuk Paduka Raja. Sementara Kacak ditangkap pihak berwenang karena telah menggelapkan uang. Kacak dihukum dua tahun penjara dan di buang ke Padang.

Sinopsis Novel Bekisar Merah


Judul              : Bekisar Merah
Pengarang      : Ahmad Tohari
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Sepasang suami istri bernama Darsa dan Lasi, mereka adalah keluarga penderes nira atau penderes kelapa. Hidup serba seadanya karena tidak cukup biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selama hampir tiga tahun pernikahannya mereka belum dikaruniai anak. Namun darsa tetap bahagia karena memiliki istri yang cantik berkulit putih dan mirip orang jepang. Suatu hari seperti biasanya Darsa pergi untuk mengangkat pongkor. Sampai petang Darsa belum juga pulang ke rumah, Lasi pun menjadi cemas akan keadaan suaminya karena risiko menjadi penderes adalah nyawa taruhannya.  Samar-samar terlihat sosok lelaki yang datang dengan membawa beban yang berat. Darsa jatuh dari pohon kelapa dan sekarat. Sontak ini membuat Lasi kaget dan cemas, sebab Lasi tidak punya ongkos sama sekali untuk membawa Darsa berobat. Dengan nasehat dari Eyang Mus Darsa dibawa ke rumah sakit, namun Darsa tidak kunjung sembuh dan menurut dokter, Darsa harus dioperasi karena Darsa masih sering kencing dicelana dan juga menjadi lemah syahwat.
            Akhirnya keluarga membawa Darsa pulang dan memilih untuk mengobatkan Darsa ke seorang dukun yang bernama Bunek. Setiap hari Bunek selalu merawat Darsa dengan sabar, hingga akhirnya sembuh dari penyakit lemah syahwat.Tetapi Bunek ingin membuktikan kejantanan Darsa dengan perantara anaknya yang bernama Sipah,  Sipah yang pincang kakinya sebenarnya menolak tapi karena dibujuk Bunek  akhirnya ia mau melakukan perbuatan itu. Bunek menganggap hal itu sebagai imbalan. Darsa pun sebenarnya tidak mau melakukan hal sekeji itu, ia tidak mau menyakiti hati Lasi, tapi apa daya Darsa tetap tidak mampu menahan nafsu kelelakiannya.
            Memang sudah menjadi takdir Lasi hidup susah,  dari kecil Lasi sudah banyak menjadi pembicaraan orang karena rupa wajahnya yang mirip orang jepang, terkadang anak-anak desa sering mengejek lasi dengan sebutan “lasipang” lasi anak Jepang. Hanya Kanjat teman Lasi yang tidak mau mengejek, karena Kanjat anak yang baik dan tidak banyak tingkah. Suatu ketika Lasi memberanikan diri bertanya tentang siapa ayah biologisnya ,apakah Lasi hasil perkosaan orang Jepang dan benarkah Wiryaji bukan ayah kandungnya. Sebenarnya Mbok Wiryaji tidak mau menjelaskan hal itu, meskipun akhirnya menjelaskan juga siapa ayah kandung Lasi dan bagaimana ceritanya Mbok Wiryaji berhubungan dengan orang Jepang yang menjadi ayah kandung Lasi. Nasib lasi memang bertambah sengsara setelah mendengar kelakuan nakal suaminya. Lasi tidak mau lagi hidup di desa Karangsoga. Lasi memilih pergi diam-diam dari desanya dengan menumpang truk yang dikemudikan Pardi tetangganya. Lasi ingin pergi ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Lasi dititipkan di warung makan milik Bu Koneng langganan Pardi. Bu Koneng pun membujuk Lasi untuk tetap tinggal di rumahnya dan mempekerjakan Lasi sebagai pelayan warungnya.
            Dengan rayuan Bu Koneng yang selalu memuji kecantikan Lasi dan selalu mendengarkan cerita tentang Darsa. Akhirnya Lasi mau juga tinggal bersama Bu Koneng. Sampai suatu hari Bu Koneng kedatangan temannya yang bernama Bu Lanting dengan membawa pasangan yang lebih muda umurnya. Berawal dari sinilah Lasi berkenalan dengan Bu Lanting. Bu Lanting adalah orang yang memanfaatkan para wanita cantik untuk diperistrikan pejabat-pejabat kaya. Di hari yang lain Bu Lanting kembali datang kali ini membawa hadiah untuk Lasi berupa pakaian lengkap yang bagus kualitasnya. Lasi pun mau mengenakannya dan di balik semua itu Lasi ingat akan pesan Mbok Wiryaji tak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan, hal ini selama ini selalu menjadi prinsip yang kuat pada diri Lasi.
            Lasi kini menjadi wanita jepang yang cantik setelah tinggal bersama Bu Lanting. Selama ini Lasi hanya menurut setiap tawaran Bu Lanting karena telah menganggap sebagai anak angkatnya. Setiap hari Lasi selalu diajak pergi keliling Jakarta. Bu Lanting memperkenalkan Lasi dengan seorang pengusaha kaya yang sudah berumur 50 tahunan. Lelaki tua yang benama Handarbeni itu tergoda hatinya. Nasihat Bu Lanting memang membuat Lasi selalu pasrah karena kata-katanya. Lasi yang dulu selalu hidup susah kini mulai berpikir karena  akan dinikahi Handarbeni . Siapa yang mau menolak keberuntungan, itulah yang selau diucapkan Bu lanting. Di sisi lain Bu Lanting sangat beruntung ketika Lasi mau menjadi istri Handarbeni, ia akan diberi harta melimpah karena menyediakan bekisar merah. Lasi sebenarnya ada kesempatan untuk pulang, ketika sebelumnya  Kanjat datang meminta Lasi untuk pulang ke Karangsoga, Namun Lasi menolak. Sebenarnya kanjat sejak saat itu mulai tersentuh hatinya terhadap Lasi begitupun Lasi kepada kanjat, tapi mereka hanya menyimpannya dalam hati.
            Lasi kini menjadi nyonya Handarbeni, hidupnya tidak ada kekurangan semuanya tercukupi. Tapi itu hanya beberapa waktu saja. Lasi merasa kecewa terhadap Handarbeni, karena impoten dan yang membuat Lasi marah dalah perkataan Handarbeni yang memintanya untuk mencari kepuasan dengan lelaki lain. Hal itu membuat hati Lasi sakit dan minta pulang ke Karangsoga untuk sementara waktu. Di Karang soga Lasi pulang dengan diantar mobil mewah lengkap dengan sopirnya. Semua warga karangsoga yang melihat kagum dan terperangah.
            Cukup lama tinggal di Karangsoga, Lasi mulai membangun rumah orang tuanya. Suaminya terkadang juga datang memberi bantuan dana kepada desa untuk membangun infrastruktur. Setidaknya ini membuat tetangga Lasi yang dulu sering menghina Lasi kini mulai berbalik arah. Suatu hari Lasi menemui Kanjat setelah mendengar bahwa Kanjat membutuhkan dana besar untuk penelitiannya. Lasi bermaksud membantu Kanjat. Tetapi sebenarnya ada maksud lain, Lasi ingin memceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. termasuk masalah akan menjadi janda untuk kedua kalinya. Lasi ingin cerai dengan Handarbeni. Kemudian Lasi memberanikan diri untuk bertanya kepada Kanjat, apakah kanjat mau menikahi Lasi setelah janda nanti. Tapi kanjat masih bingung karena bila ia berniat  memperistri janda apa nanti yang akan dikatakan bapaknya serta para tetangga.
            Suatu hari Kanjat dan Lasi berniat melihat penebangan banyak pohon kelapa yang selama ini menghidupi penderesnya. Pohon-pohon kelapa itu ditebang karena akan menjadi jalur listrik yang akan mengaliri desa Karangsoga. Apalagi setelah mendengar banyak pohon kelapa milik Darsa yang akan ditebang tanpa ganti rugi, mereka tidak bisa membayangkan akan makan apa keluarga Darsa nanti, apalagi kini Darsa sudah memiliki anak dari Sipah istrinya. Lasi dan Kanjat berinisiatif menenangkan Darsa dengan datang ke rumahnya. Sementara lasi memberikan uang yang cukup untuk biaya hidup satu tahun kepada Sipah.
Di tengah perjalan pulang Lasi berpamitan bahwa besok akan ke jakarta, Lasi juga menanyakan fotonya apakah masih disimpan kanjat, ternyata Kanjat masih menyimpannya dan Lasi juga masih menyimpan foto kanjat. Keduanya merasa tak mudah membuka mulut lagi dan hanya diam. Kanjat melihat pada kedalaman mata Lasi masih tersimpan pesona, tetapi pada mata Lasi pula Kanjat melihat kenyataan lain bahwa Lasi masih punya suami. dan lebih dari itu, dalam mata lasi kanjat juga melihat Darsa, Sipah,dan anaknya. Itu seperti menyindir Kanjat yang gagal meringankan bebban hidup para penyadap kelapa, bagi kanjat Lasi adalah harapan dan cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya. Di pihak lain, Darsa adalah dunia para penyadap yang terus memanggil keterpihakan kanjat. Sudah menjadi kesadaran yang mendalam di hati Kanjat bahwa para penyadap menyimpan piutang yang sangat besar pada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur, termasuk Kanjat sendiri.

Sinopsis Novel Orang-Orang Proyek


Judul              : Orang-Orang Proyek
Pengarang      : Ahmad Tohari
Penerbit          : Penerbit Jendela
Kabul, insinyur muda penuh idealisme terbentur kenyataan proyek jembatan yang sedang dalam pengerjaannya digerogoti dari segala penjuru oleh para tikus-tikus kantor. Proyek pembangunan jembatan di desa terpencil benar-benar menjadi ajang pamer bagi partai penguasa tanpa mengindahkan ilmu kontruksi bangunan, betapa tidak, jembatan harus selesai jadi, ketika HUT partai penguasa.  Pembangunan jembatan tersebut bukan proyek biasa, sebab mengandung unsur politis . Jembatan itu merupakan pesanan pemerintah sekaligus golongan penguasa yang didanai luar negeri.  Pembangunan itu semata-mata karena desa tersebut akan dijadikan tempat perayaan ulang tahun golongan penguasa GLM (Golongan Lestari Menang). Jembatan dibangun hanya dengan bahan-bahan kualitas rendah dan juga tuntutan waktu, itu artinya kontuksi jembatan harus dibuat walaupun dalam musim penghujan. Padahal pembangunan yang demikian sangat  beresiko terhadap kekuatan jembatan.
Dalam pelaksanaan proyek Kabul begitu getir melihat penyelewengan- penyelewengan yang terjadi, seperti penggelapan bahan bangunan, pembangunan di bawah standar  operasional dan juga adanya pemangkasan uang proyek yang dilakukan orang-orang pemerintah.  Dia dipaksa bergelut dengan realitas masyarakat yang korup dan curang. Sementara idealismenya masih bersemayam di dalam hatinya.
Suatu hari Kabul mempunyai permintaan terhadap bosnya yang bernama Dalkijo, Kabul meminta agar pemasangan lantai jembatan harus menggunakan besi baru, pasir yang bermutu dan juga meminta penyelesaian proyek ini tidak dipaksa bersamaan dengan pelaksanaan HUT GLM, dan ttuntutan itu adalah harga pasti. Kalau permintaan tersebut tidak dituruti Kabul akan mengundurkan diri dari proyek itu. Namun Dalkijo menolak semua permintaan Kabul. Akhirnya Kabul menyerah dan memilih mengundurkan diri. Meskipun sang Bos merayu dan akhirnya mengancam, namun Kabul tetap pada pendiriannya. Kabul tidak ingin membohongi rakyat, Karena ia orang yang jujur dan memegang teguh idealismenya ,ia tidak mau terjun ke dalam proyek yang haram penuh dengan korupsi. Kabul lebih memilih tidak menyelesaikan sisa proyek yang sangat digerogoti  para koruptor itu. Pilihan Kabul untuk mengundurkan diri dari proyek itu harus disertai dengan perpisahannya dengan orang yang dia sayangi yaitu Wati yang juga bekerja di proyek itu sebagai sekertaris. Setelah Kabul keluar dari proyek itu hidupnya menjadi kurang jelas dan mengambang,namun ia menemukan keteduhan yang akan menenangkan hatinya,yaitu Biyungnya.
Saat peresmian, Kabul juga turut hadir yang diam-diam juga diikuti oleh para pekerja yang setia kepada Kabul. Kendaraan beriringan melewati jembatan sebagai ajang HUT partai penguasa  atau GLM. Melihat kejadian itu Kabul nyaris tidak bernafas,ketika iring-iringan semakin panjang karena Kabul yakin kekuatan jembatan belum saatnya  untuk digunakan, tapi kenyataanya dipaksakan. Akhirnya jembatan yang terlihat kokoh itu lantainya sudah jebol dan banyak kerusakan lainnya meski umurnya baru satu tahun.